Jalan Panjang

Indah itu bersatu dalam asma-Nya
Bertasbih dalam rindu pada-Nya
Berkorban demi ridho-Nya

Andai perjalanan ini dekat,
tentu semua mengikutinya
Tapi berat sungguh,
karena surga jaminannya

Jangan lelah berjuang!
Biar lelah, lelah mengejar
Biar cinta dan harap, tetap jadi tujuan

No comment »

Seakan Saat Ini

Bulan ini
Kutautkan diriku di padang kenabian
Kuhempaskan dalam nafas Rabbani
Tersingkat kata
Terpautkan nada
Tak bisa berkata

Bulan ini
Tercenung dalam cita panjang untuk keridhoan
Terdiam kala harapan menjadi kelam
Kuterduduk
Haruskah kembali pulang

Bulan ini
Hidup sebenar ingin kujelang
Tapi nafas tak sanggup lajukan
Tak bermakna sudah semua

Akankah karena
Bingung jadi nyata lalu
Hempasan nada terhina
??

Ku tak ingin hal itu terulang

Biar tamuku tetap agung
Biar ia tetap mulia

Jangan biarkan aku tejatuh karena ilalang-ilalang ini lagi

No comment »

Jika Puisi Berjudul Ibu

Meranggas dedaunan ketika tersebut namanya

Tersinar pelangi ketika teringat cintanya

Terdiam malam dalam hening tubuhnya

Akankah aku seindah dirinya

Kelembutan senantiasa merobek semua

Logika yang telah tertanam sempurna

Semua hancur di kakinya

Akankah aku seindah dirinya

Berbayang dalam panji kekuatan

Terhunus pedang kegigihan

Menantang hiasan indah di seberang lautan

Akankah aku seindah dirinya

Kini

Tercabik aku kala hangatnya terus hiasi tidur malamku

Karena dalam sujudnya,

tak pernah tinggalkanku

Kadang

Tercipta tanya panjang tak terbilang

Hidupnya sungguh bukan untai bunga gemerlapan,

Tapi juangnya terbentang tak berkesudahan

Wahai bulan, mengapa begitu dalam sayangnya?

Duhai mentari, mengapa begitu lebat tulusnya?

Haruskah bumi resapkan semua bahagianya

Kala langit meredam derita?

Atau sudikah awan menaungi sedikit saja

Agar terwarna langkahnya

Dan terpijar retas langkahnya?

Rabb..

Tak kuasa hamba

Terlalu lemah digapai

Bahkan oleh sejuta asa hati

Rabb..

Apa doa kecil sanggup ungkapkan mawar rindu ini

Karena seiring langkah payahnya,

tak bisa tergapai harapnya

Rabb..

Bolehkah hamba lanjutkan langkahnya?

Agar diri ini dapat seindah dirinya

Hamba mohon, ya Rabbi..

No comment »

Hari Ini

Menit membeku

Terpasung sang waktu

Hilang dalam denyut jantungku

Detik pun membisu

Kicauannya hilang,

kabarkan pertanda

"Inilah kau, manusia"

Hei

Ingatkah akan Sang Hari Besar

yang

permainannya guncangkan kata

nyaman, aman, tentram

Lalu kosongkan labirin kehangatan

Kabarkan riuhnya derita

Lantas

Inikah kau kini

Dengan segenap harkat, martabat diri

yang kau ciptakan sendiri

MALU

tidakkah kau?

HEBAT

jika benih takabbur itu masih merongrong hatimu

setelah kau injak diriku

No comment »

Haruskah Memilih

Terbelah hatinya

Terkubur jiwanya

Indah nian jika tersatu nafas dalam hening mawaddah

Tak rapuh

Tertunduk patuh

Semu itu menjelaskan semua tanya

Karena terkubur tanyanya dalam hening

ketaatan

Akankah hilang

Kapankah selesai

Hanya pada-Mu semua kembali

juga hamba

Rabbi..

Hilang sudah ucap ini

No comment »

Dalam Syukur

Ribuan, jutaan syukur terpana
Tertakdir semesta
Puluhan, ratusan tasbih menggema
Getarkan jiwa, rengkuhkan nada
Indah
Hening
Lapang
Jelita
Terkata impian jika ada
Hidup atau mati tak lagi upaya
Bentangnya tak ragukan setia
(Rabb, masihkah hamba?)

No comment »

Bukan Fatamorgana?

29 Januari 2007/10 Muharram 1428 H

Kesempatan itu datang dan

Akan segera pergi tampaknya

Jiwa ini harus segera bersiap

Apakah ini jalan yang seharusnya

Atau bisakah diri ini menempuh pendakian yang lebih terjal

Atau beranikah kau?

Karena diri ini untuk apalah

Untuk apalah aku ada

Atau tetap bernafas dan bergerak

Dan merencanakan, mengevaluasi

Lalu memperbaiki diri

Kemudian menangis malu

Hidup

MIsteri tiada

tara

Memenjarakan diri dalam segala kegelapannya

Lalu membuatnya terang dengan cahaya petunjuk-Nya

Wahai diri

Andai tak ada perintah untuk hidup, untuk apalah hidup

Andai tak ada perintah berjuang, untuk apa berkorban

Inilah kau

Maka, aku hanya ingin melanjutkan perjuangan ini sebentar lagi

Sudah kudengar keindahan di seberang

sana

untuk yang bisa lolos dari ranjau kehidupan ini

Sudah kuhirup semerbaknya dari jarak yang jauh ini

Apakah artinya aku sudah dekat?

Aku takut, hanya fatamorganalah ia semua

Lalu api menyala mana yang akan aku singgahi?

Tidak!!

Aku tak mau ada di

sana

!

Maka biarlah

Walaupun masih begitu jauh jalannya

Dan berliku pula

Dan licin serta terjal juga

Biar terus kudaki

Lalu kuarungi

Seluruh samudera ini

Tenang, tinggal sebentar lagi sampai, Ukhti..

No comment »

Biar Ia Saja

Tercenung dalam nada diam

Terdiam dalam nafas tertahan

Asa terpasung, tak henti menderu

Seakan tak ada selainnya

Salahkah jika belati telah lenyapkan pandangan

Lalu gontai terseok mengikuti

Tercekat dalam rasa tertahan

Diseret tidak, berjalan tak tegak

Biarkan sunyi!

Karena ini hariku

Agar terlesap dalam rumitnya liku

Menangis

Lagi-lagi tertahan

Biarkan dalam gelap

Hanya Ia yang tahu

Apa diriku

No comment »

Malam

Malam turunlah, kabarkan aku tentang bintang

Atau tentang bulan benderang, agar tak gelap lagi jiwaku

"Tetapi aku harus tetap di sini, menjaga gelanggang langit kelam. Bagaimana aku bisa melangkah menuju fana?"

Ucap sang malam.

Aku menjawab,"Maka biarlah dirimu tetap sempurna wahai malam, tetapi gunakan jiwamu untuk bangunkan asa yang terpendam, agar semburat jingganya."

Malam pun berusik dan mencoba, bergetar dan menegang, meregang, menggelinjang

Dan dalam kepasrahannya, ia hanya berbisik pelan

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah

Biar Sang Pemilik yang menggerakkan

Tangan dari tidurku

Kaki dari diamku

Tubuh dari hitam putih kebingunganku

Biar Dia saja

No comment »

Kembalilah

Jika sebuah pagi itu bermakna

Biar sang cahaya tebarkan sinarnya

Atau ia akan tertelan oleh gundah tak bermakna

Surya tenggelam, akankah kegelapannya

Temaramkan jiwa yang terlanjur pekat

Jika begitu biarlah

Biarlah ia pergi dan takkan kembali

Dan kedahsyatan cahaya akan berubah menjadi panas tak terperi

Kau takkan kuat menahannya

Percikkan ia dengan setitik kesejukan

Akan terlahir kembali ia

Walau terseok

Walau tetatih

Tetapi inilah jalan kembali itu

Agar kesejukan itu jadi abadi

Dalam hati yang begitu dalam dan terang

No comment »