Rakitan Siang

Aku merakit siang dalam diam

Terpekur dalam sulaman tak berjarum

Hidup tak lagi berwarna

Hitam pun menggelanggang

Kalau cerah itu surga, maka ini sudah surga kah?

Jika sejuk itu nikmat bukankah ini juga tempatnya?

Mengapa pun ia sudah tercipta

Hidup tetaplah hampa

Kuraba jantungku, masih berdetak ia

Kusapu wajahku, masih terlipat senyumnya

Karena sang hitam masih menggelanggang

Kehidupan biru-nya sudah lama menjadi masa silam

Satu-satu berdarah jariku

Mataku pun pedih, lalu menetes satu-satu bening air mataku

Tersedak, lalu dahaga sudah menjadi muntah darah kelam

Ugh, inikah hidup sebenar

Begitu dalam lukanya pada sekujur tubuhku

Tapi tangan ini tak berhenti menyulam

Menyulam rakit dengan jarum bambu-bambu kehidupan rakyat

Miris, tetap menangis

Tapi tak berhenti jariku

Kapan aku dapatkan kembali hidupku dulu?

Say your words