July 23, 2008
· Filed under Uncategorized
Aku ingin menangis
Itu saja
Entah karena apa
Entah menyesali siapa
Terlalu kekanak-kanakkan kah bila mengharapkan sesuatu yang lebih
Dari yang biasanya
Salahkah bila berharap
Tentang sebuah kemustahilan
Terlalu naifkah untuk bergumam
Dan mencurahkan sedikit impian
Ya
Memang salah
Ini dunia, Bung!!
Bila memang sudah takdirnya, biarlah diam hilang dan tertelan bumi
Entah
Biar sampai kapan
Biar pergi
Biar kusendiri
Biar nanti saja hiburan itu datang
Tidakkah kau ingin yang lebih
Dari sekadar fatamorgana
Lalu mengapa harus berharap
Lebih pada dunia
Sedangkan akhirat akan lebih indah
Jika kau tunda ia saat ini
Lagi
July 16, 2008
· Filed under Uncategorized
Sebenarnya apa yang harus kulakukan pada dunia
Terlalu sempitkah jika terabaikan hingga tercabik semua asa
HIlang cerah cemerlangnya yang telah terlalu biasa
Tak menjadi suatu senyum atau bisik syukur lagi
Sudah terlalu lama kutinggalkan dunia
Terseok dalam syair bisu mimpi indah
Lalu terjerembab dalam lubang gelap
Karena sang impian itu gulita semata
Mungkinkah kembali
Tapi pada apa juga diri ini hilang makna
Ah!!
Geram yang tak mendapatkan tempatnya
Sepi yang debu pun tak sanggup artikan apa
Marah tapi entah pada apa
Keramaian bukan lagi canda
Penglihatan tak lagi jadi sesal yang benar atau hidup yang ..
Aah!!!
Biar saja jika malu itu seharusnya memang ada
Tapi harus bagaimana sang batu pun diam saja
Biar ruang-ruang kosong ini yang menyaksikan khayal terpendar
Atau bacaan-bacaan indah yang merana
Kapan lagi sang warna akan datang
Cahaya ini telah tulikan mata
Hingga tak bisa lagi mengucap sebuah kata bernama
Bahagia
July 13, 2008
· Filed under Uncategorized
Hangatnya pagi mulai terasa
Mengangkat hijab kelam malam menuju terangnya cahaya
Kehidupan itu mulai terasa berwarna
Dari hitam putih menjadi warna warni pelangi
Akankah perjalanan ini terhenti atau melambat?
Akankah hilang semua asa karena inilah tujuan?
Bahkan tidak!!
Berat tapi inilah..
Sulit tapi hadapilah..
Wahai hidup ajarkan aku berjuang
Karena sang pujangga baru melangkahkan kaki menuju gelanggang abadi
Wahai jiwa songsonglah
Inilah yang kau tunggu lalu menemuimu
Kemarilah, lalu ajarkan aku bagaimana menggapai surga
Bersama
July 7, 2008
· Filed under Uncategorized
Aku merakit siang dalam diam
Terpekur dalam sulaman tak berjarum
Hidup tak lagi berwarna
Hitam pun menggelanggang
Kalau cerah itu surga, maka ini sudah surga kah?
Jika sejuk itu nikmat bukankah ini juga tempatnya?
Mengapa pun ia sudah tercipta
Hidup tetaplah hampa
Kuraba jantungku, masih berdetak ia
Kusapu wajahku, masih terlipat senyumnya
Karena sang hitam masih menggelanggang
Kehidupan biru-nya sudah lama menjadi masa silam
Satu-satu berdarah jariku
Mataku pun pedih, lalu menetes satu-satu bening air mataku
Tersedak, lalu dahaga sudah menjadi muntah darah kelam
Ugh, inikah hidup sebenar
Begitu dalam lukanya pada sekujur tubuhku
Tapi tangan ini tak berhenti menyulam
Menyulam rakit dengan jarum bambu-bambu kehidupan rakyat
Miris, tetap menangis
Tapi tak berhenti jariku
Kapan aku dapatkan kembali hidupku dulu?