Archive for July, 2008

Aku ingin menangis

Aku ingin menangis
Itu saja
Entah karena apa

Entah menyesali siapa

Terlalu kekanak-kanakkan kah bila mengharapkan sesuatu yang lebih

Dari yang biasanya

Salahkah bila berharap

Tentang sebuah kemustahilan

Terlalu naifkah untuk bergumam

Dan mencurahkan sedikit impian

Ya

Memang salah

Ini dunia, Bung!!

Bila memang sudah takdirnya, biarlah diam hilang dan tertelan bumi

Entah

Biar sampai kapan

Biar pergi

Biar kusendiri

Biar nanti saja hiburan itu datang

Tidakkah kau ingin yang lebih

Dari sekadar fatamorgana

Lalu mengapa harus berharap

Lebih pada dunia

Sedangkan akhirat akan lebih indah

Jika kau tunda ia saat ini

Lagi

No comment »

Bukan Nanti

Sebenarnya apa yang harus kulakukan pada dunia

Terlalu sempitkah jika terabaikan hingga tercabik semua asa

HIlang cerah cemerlangnya yang telah terlalu biasa

Tak menjadi suatu senyum atau bisik syukur lagi

Sudah terlalu lama kutinggalkan dunia

Terseok dalam syair bisu mimpi indah

Lalu terjerembab dalam lubang gelap

Karena sang impian itu gulita semata

Mungkinkah kembali

Tapi pada apa juga diri ini hilang makna

Ah!!

Geram yang tak mendapatkan tempatnya

Sepi yang debu pun tak sanggup artikan apa

Marah tapi entah pada apa

Keramaian bukan lagi canda

Penglihatan tak lagi jadi sesal yang benar atau hidup yang ..

Aah!!!

Biar saja jika malu itu seharusnya memang ada

Tapi harus bagaimana sang batu pun diam saja

Biar ruang-ruang kosong ini yang menyaksikan khayal terpendar

Atau bacaan-bacaan indah yang merana

Kapan lagi sang warna akan datang

Cahaya ini telah tulikan mata

Hingga tak bisa lagi mengucap sebuah kata bernama

Bahagia

No comment »

Untuk Saudariku

Hangatnya pagi mulai terasa

Mengangkat hijab kelam malam menuju terangnya cahaya

Kehidupan itu mulai terasa berwarna

Dari hitam putih menjadi warna warni pelangi

Akankah perjalanan ini terhenti atau melambat?

Akankah hilang semua asa karena inilah tujuan?

Bahkan tidak!!

Berat tapi inilah..

Sulit tapi hadapilah..

Wahai hidup ajarkan aku berjuang

Karena sang pujangga baru melangkahkan kaki menuju gelanggang abadi

Wahai jiwa songsonglah

Inilah yang kau tunggu lalu menemuimu

Kemarilah, lalu ajarkan aku bagaimana menggapai surga

Bersama

No comment »

Rakitan Siang

Aku merakit siang dalam diam

Terpekur dalam sulaman tak berjarum

Hidup tak lagi berwarna

Hitam pun menggelanggang

Kalau cerah itu surga, maka ini sudah surga kah?

Jika sejuk itu nikmat bukankah ini juga tempatnya?

Mengapa pun ia sudah tercipta

Hidup tetaplah hampa

Kuraba jantungku, masih berdetak ia

Kusapu wajahku, masih terlipat senyumnya

Karena sang hitam masih menggelanggang

Kehidupan biru-nya sudah lama menjadi masa silam

Satu-satu berdarah jariku

Mataku pun pedih, lalu menetes satu-satu bening air mataku

Tersedak, lalu dahaga sudah menjadi muntah darah kelam

Ugh, inikah hidup sebenar

Begitu dalam lukanya pada sekujur tubuhku

Tapi tangan ini tak berhenti menyulam

Menyulam rakit dengan jarum bambu-bambu kehidupan rakyat

Miris, tetap menangis

Tapi tak berhenti jariku

Kapan aku dapatkan kembali hidupku dulu?

No comment »