Archive for January, 2008
Bukan Fatamorgana?
29 Januari 2007/10 Muharram 1428 H
Kesempatan itu datang dan
Akan segera pergi tampaknya
Jiwa ini harus segera bersiap
Apakah ini jalan yang seharusnya
Atau bisakah diri ini menempuh pendakian yang lebih terjal
Atau beranikah kau?
Karena diri ini untuk apalah
Untuk apalah aku ada
Atau tetap bernafas dan bergerak
Dan merencanakan, mengevaluasi
Lalu memperbaiki diri
Kemudian menangis malu
Hidup
MIsteri tiada
tara
Memenjarakan diri dalam segala kegelapannya
Lalu membuatnya terang dengan cahaya petunjuk-Nya
Wahai diri
Andai tak ada perintah untuk hidup, untuk apalah hidup
Andai tak ada perintah berjuang, untuk apa berkorban
Inilah kau
Maka, aku hanya ingin melanjutkan perjuangan ini sebentar lagi
Sudah kudengar keindahan di seberang
sana untuk yang bisa lolos dari ranjau kehidupan ini
Sudah kuhirup semerbaknya dari jarak yang jauh ini
Apakah artinya aku sudah dekat?
Aku takut, hanya fatamorganalah ia semua
Lalu api menyala mana yang akan aku singgahi?
Tidak!!
Aku tak mau ada di
sana !
Maka biarlah
Walaupun masih begitu jauh jalannya
Dan berliku pula
Dan licin serta terjal juga
Biar terus kudaki
Lalu kuarungi
Seluruh samudera ini
Tenang, tinggal sebentar lagi sampai, Ukhti..
Biar Ia Saja
Tercenung dalam nada diam
Terdiam dalam nafas tertahan
Asa terpasung, tak henti menderu
Seakan tak ada selainnya
Salahkah jika belati telah lenyapkan pandangan
Lalu gontai terseok mengikuti
Tercekat dalam rasa tertahan
Diseret tidak, berjalan tak tegak
Biarkan sunyi!
Karena ini hariku
Agar terlesap dalam rumitnya liku
Menangis
Lagi-lagi tertahan
Biarkan dalam gelap
Hanya Ia yang tahu
Apa diriku
Malam
Malam turunlah, kabarkan aku tentang bintang
Atau tentang bulan benderang, agar tak gelap lagi jiwaku
"Tetapi aku harus tetap di sini, menjaga gelanggang langit kelam. Bagaimana aku bisa melangkah menuju fana?"
Ucap sang malam.
Aku menjawab,"Maka biarlah dirimu tetap sempurna wahai malam, tetapi gunakan jiwamu untuk bangunkan asa yang terpendam, agar semburat jingganya."
Malam pun berusik dan mencoba, bergetar dan menegang, meregang, menggelinjang
Dan dalam kepasrahannya, ia hanya berbisik pelan
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah
Biar Sang Pemilik yang menggerakkan
Tangan dari tidurku
Kaki dari diamku
Tubuh dari hitam putih kebingunganku
Biar Dia saja