Archive for January, 2008

Dalam Syukur

Ribuan, jutaan syukur terpana
Tertakdir semesta
Puluhan, ratusan tasbih menggema
Getarkan jiwa, rengkuhkan nada
Indah
Hening
Lapang
Jelita
Terkata impian jika ada
Hidup atau mati tak lagi upaya
Bentangnya tak ragukan setia
(Rabb, masihkah hamba?)

No comment »

Bukan Fatamorgana?

29 Januari 2007/10 Muharram 1428 H

Kesempatan itu datang dan

Akan segera pergi tampaknya

Jiwa ini harus segera bersiap

Apakah ini jalan yang seharusnya

Atau bisakah diri ini menempuh pendakian yang lebih terjal

Atau beranikah kau?

Karena diri ini untuk apalah

Untuk apalah aku ada

Atau tetap bernafas dan bergerak

Dan merencanakan, mengevaluasi

Lalu memperbaiki diri

Kemudian menangis malu

Hidup

MIsteri tiada

tara

Memenjarakan diri dalam segala kegelapannya

Lalu membuatnya terang dengan cahaya petunjuk-Nya

Wahai diri

Andai tak ada perintah untuk hidup, untuk apalah hidup

Andai tak ada perintah berjuang, untuk apa berkorban

Inilah kau

Maka, aku hanya ingin melanjutkan perjuangan ini sebentar lagi

Sudah kudengar keindahan di seberang

sana

untuk yang bisa lolos dari ranjau kehidupan ini

Sudah kuhirup semerbaknya dari jarak yang jauh ini

Apakah artinya aku sudah dekat?

Aku takut, hanya fatamorganalah ia semua

Lalu api menyala mana yang akan aku singgahi?

Tidak!!

Aku tak mau ada di

sana

!

Maka biarlah

Walaupun masih begitu jauh jalannya

Dan berliku pula

Dan licin serta terjal juga

Biar terus kudaki

Lalu kuarungi

Seluruh samudera ini

Tenang, tinggal sebentar lagi sampai, Ukhti..

No comment »

Biar Ia Saja

Tercenung dalam nada diam

Terdiam dalam nafas tertahan

Asa terpasung, tak henti menderu

Seakan tak ada selainnya

Salahkah jika belati telah lenyapkan pandangan

Lalu gontai terseok mengikuti

Tercekat dalam rasa tertahan

Diseret tidak, berjalan tak tegak

Biarkan sunyi!

Karena ini hariku

Agar terlesap dalam rumitnya liku

Menangis

Lagi-lagi tertahan

Biarkan dalam gelap

Hanya Ia yang tahu

Apa diriku

No comment »

Malam

Malam turunlah, kabarkan aku tentang bintang

Atau tentang bulan benderang, agar tak gelap lagi jiwaku

"Tetapi aku harus tetap di sini, menjaga gelanggang langit kelam. Bagaimana aku bisa melangkah menuju fana?"

Ucap sang malam.

Aku menjawab,"Maka biarlah dirimu tetap sempurna wahai malam, tetapi gunakan jiwamu untuk bangunkan asa yang terpendam, agar semburat jingganya."

Malam pun berusik dan mencoba, bergetar dan menegang, meregang, menggelinjang

Dan dalam kepasrahannya, ia hanya berbisik pelan

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah

Biar Sang Pemilik yang menggerakkan

Tangan dari tidurku

Kaki dari diamku

Tubuh dari hitam putih kebingunganku

Biar Dia saja

No comment »